JAKARTA, UMKMTRUST.ID – Steering Committee Indonesia Open Network (ION), Bayu Prawira Hie mengungkapkan, sebagai sebuah infrastruktur digital berbasis jaringan terbuka, ION bakal menghadirkan paradigma baru dalam lanskap perdagangan digital Tanah Air.
“ION sama sekali bukan aplikasi marketplace baru, melainkan sebuah terobosan infrastruktur publik digital,” tutur Bayu padaacara peluncuran workshop ION di Gedung Smesco, Jakarta, Selasa (19/5/2026).
Bayu menegaskan pentingnya membangun sistem atau platform yang lebih demokratis. “Misi kami adalah memperbaiki taraf hidup banyak orang melalui transaksi digital, yang fondasi teknisnya kita mulai hari ini. ION akan menjadi wajah baru bagi transformasi digital Indonesia,” ucap dia.
Secara teknis, menurut Bayu Prawira, ION mengadopsi teknologi yang lebih mutakhir dibandingkan inisiatif serupa yang telah sukses di India. Menggunakan protokol Beckn 2.0, ION mengusung konsep AI-first dan Agent Native.
“Indonesia menggunakan teknologi paling modern dan terbaru untuk open commerce sebagai infrastruktur publik digital. Sistem ini beberapa langkah lebih maju dibandingkan apa yang diterapkan di India saat ini,” ujar dia.
Salah satu daya tarik utama ION, kata Bayu Prawira, terletak pada efisiensi biaya transaksi. Selama ini, penjual di marketplace konvensional dibebani komisi yang sangat tinggi, berkisar 20% hingga 40%. ION memungkinkan angka tersebut turun hingga di bawah 8%, bahkan diprediksi mampu mencapai 3-5% saja, sesuai arahan efisiensi ekonomi digital dari Presiden Prabowo, baru-baru ini.
Sementara itu, CEO Open Network for Digital Commerce (ONDC) India, T. Koshy menerangkan, konsep utama yang diusung adalah unbundling atau pemisahan antara aplikasi pembeli dan penjual Dalam sistem ION, penjual tidak lagi terperangkap dalam satu platform. “Tujuan dari jaringan terbuka ini adalah demokratisasi perdagangan. Kita harus memahami bahwa ION bukan sebuah platform, melainkan sebuah network atau jaringan digital,” tegas dia.
Koshy mengibaratkan sistem ini dengan cara kerja internet atau email, di mana pengguna tidak dibatasi oleh penyedia layanan tertentu untuk saling berkomunikasi. Di jaringan terbuka, seperti internet, siapa pun bisa melihat konten apa pun tanpa peduli apa peramban (browser) yang digunakan.
“Di ION, Anda cukup mendaftar sekali di jaringan, dan produk Anda akan terlihat di semua aplikasi pembeli yang terhubung,” tutur dia.
Dia menambahkan, ekosistem ini pun didukung oleh berbagai pemain besar yang bertindak sebagai mitra strategis, mulai Flip di sektor gerbang pembayaran, Bank BRI untuk solusi kredit UMKM, hingga Telkom melalui Padi UMKM. Kerjasama lintas sektor ini diharapkan mampu menciptakan efek jaringan (network effect) yang kuat sejak hari pertama peluncuran agar mampu menghadirkan alternatif selain platform besar.
Sebelum diluncurkan secara resmi (go live) pada Juli 2026, ION akan menjalani fase uji coba yang difokuskan di beberapa kota besar, di antaranya Bandung, Bogor, dan Bali. Target berikutnya, pada Januari 2027, ION diharapkan sudah beroperasi penuh di seluruh pelosok Indonesia, menciptakan pasar digital yang lebih inklusif dan kompetitif bagi seluruh lapisan pelaku usaha. (FN)

