JAKARTA, UMKMTRUST.ID – Indonesia Open Network (ION), infrastruktur publik digital yang mengadopsi kesuksesan sistem ONDC di India, akan diluncurkan pada Juli 2026. Momen ini bertepatan dengan jadwal kunjungan kenegaraan Perdana Menteri (PM) India, Narendra Modi, yang akan bertemu Presiden Prabowo Subianto di Jakarta.
Kunjungan PM Modi tersebut diagendakan sebagai ajang penguatan kolaborasi strategis di sektor digital, sekaligus menandai babak baru hubungan bilateral antara Indonesia dan India di bidang teknologi digital.
Peluncuran ION menjadi simbol kemitraan nyata kedua negara dalam membangun kedaulatan digital yang mandiri. Indonesia menjadi negara kedua di dunia yang mengadopsi model jaringan terbuka ini, sebuah langkah yang disebut sebagai ‘demokratisasi perdagangan global’ oleh para inisiatornya.
Menurut CEO Open Network for Digital Commerce (ONDC) India, T. Koshy, posisi Indonesia dalam inovasi Kawasan sungguh penting. “Indonesia adalah pemimpin di ASEAN untuk inisiatif ini. Kami akan membangun sistem yang lebih canggih, berbasis kecerdasan buatan (AI), dan disesuaikan dengan kebutuhan lokal Indonesia,” kata Koshy pada peluncuran workshop bersama para pengembang dan mitra strategis ION di Gedung Smesco, Jakarta, Selasa (19/5/2026).
Koshy menegaskan, visi besar kolaborasi ini tidak berhenti di Indonesia. ION diproyeksikan menjadi jembatan perdagangan digital di Asia Tenggara. “Kami saat ini sudah dalam diskusi dengan Thailand, Brunei, Kamboja, dan Malaysia. Visi kita adalah pada tahun 2027, Indonesia Open Network akan mampu melayani perdagangan lintas batas (cross-border commerce) di seluruh ASEAN,” papar Koshy dengan nada optimistis.

Dia menjelaskan, implementasi ION di Indonesia juga merupakan langkah politik strategis untuk menjaga kedaulatan data nasional. Dengan beralih dari model platform tertutup milik asing ke jaringan terbuka nasional, pemerintah memiliki kendali lebih besar atas infrastruktur publik digital.
“Hal ini krusial untuk memastikan data transaksi masyarakat digunakan sebesar-besarnya untuk kepentingan ekonomi domestik dan kebijakan publik yang lebih akurat,” tutur dia.
Steering Committee ION, Bayu Prawira Hie mengungkapkan, langkah ini juga sejalan dengan visi efisiensi ekonomi digital yang diusung pemerintah. Penurunan biaya transaksi digital hingga di bawah 8% menjadi komitmen yang ditekankan untuk melindungi konsumen dan pelaku usaha kecil.
“Langkah ini mengikuti arahan untuk menciptakan efisiensi biaya digital. Kita tidak ingin potensi ekonomi digital kita terhambat karena biaya transaksi yang tinggi,” ujar Bayu.
Sementara itu, Chief Architect ION, Binu Raj mengemukakan, dukungan strategis terlihat dengan hadirnya mitra dari berbagai sektor, seperti Telkomsel, Bank BRI, Smesco, hingga asosiasi logistik. Kolaborasi internasional ini juga melibatkan Network for Humanity (NFH) sebagai pengembang protokol Beckn.
“Kita berdiri di atas bahu para raksasa teknologi. Kolaborasi tim Indonesia dan India ini adalah kunci sukses peluncuran Juli nanti,” tegas Binu Raj.
Setelah peluncuran resmi pada Juli mendatang, menurut dia, ION segera memulai operasional di kota-kota percontohan, seperti Bandung, Bogor, dan Bali. Peta jalan (roadmap) yang disusun menargetkan jaringan ini beroperasi penuh di seluruh Indonesia pada Januari 2027.
“Proyek ini diharapkan menjadi warisan penting kerja sama internasional yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi nasional secara masif, adil, dan berkelanjutan,” tandas dia. (FN)

