JAKARTA, UMKMTRUST.ID – Indonesia Open Network (ION) menargetkan satu juta pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) ke dalam platform perdagangan digital berbasis jaringan terbuka itu dalam satu tahun pertama. ION mampu mengatasi biaya tinggi yang selama ini menghambat pelaku usaha kecil untuk masuk ke dalam platform perdagangan digital (marketplace).
Menurut Steering Committee ION, Bayu Prawira Hie, Kementerian UMKM melalui Smesco Indonesia akan menjadi motor penggerak utama sebagai wajah depan dari ekosistem UMKM di ION. Smesco akan berperan dalam kurasi produk dan pelatihan bagi para pelaku usaha agar siap masuk ke pasar digital berbasis ION.
“Prioritas utama akan diberikan kepada produk-produk lokal bersertifikasi ‘Made in Indonesia’ guna memperkuat kedaulatan ekonomi nasional di tengah serbuan produk impor,” tutur Bayu pada peluncuran workshop bersama para pengembang dan mitra strategis ION di Gedung Smesco, Jakarta, Selasa (19/5/2026).
Bayu mengungkapkan, kesempatan terbesar UMKM saat ini adalah menggarap potensi pasar digital. Namun dari sekitar 65 juta UMKM di Indonesia, baru sekitar 4 juta yang sudah melek digital. “ION hadir untuk mempercepat proses ini dengan menggandeng berbagai pihak untuk memajukan potensi digital UMKM berbasis jaringan ION yang efisien,” tegas dia.
ION Accelerator, Sachin V Gopalan menambahkan, berbasiskan ION, pelaku UMKM bisa bertransaksi dengan lebih efisien, sehingga bisa menurunkan komisi platform yang saat ini mencapai 20-30%. “Kalau biaya transaksi digital rendah, UMKM bisa menjual lebih murah kepada pembeli, sekaligus mendapat penghasilan lebih tinggi,” tandas dia.
Sachin menjelaskan, rendahnya biaya ini diharapkan mampu menarik minat UMKM yang selama ini enggan masuk ke dunia digital. Dengan skema biaya di bawah 8%, UMKM desa pun kini memiliki peluang untuk meraup untung lebih besar.
“Kita ingin menciptakan situasi di mana UMKM merasa happy karena pendapatannya naik, dan pembeli juga happy karena tidak harus membayar harga yang terlalu mahal akibat komisi platform,” ujar dia.
Selain akses pasar, menurut Sachin Gopalan, ION mengintegrasikan data potensi bisnis digital UMKM yang selama ini sulit diakses oleh bank. Melalui kerja sama dengan Bank BRI, ION akan menyediakan fitur penyaluran kredit yang terintegrasi langsung dalam sistem transaksi.
“Dengan demikian, rekam jejak penjualan UMKM di jaringan ION dapat digunakan sebagai basis penilaian kredit yang lebih akurat, memberikan nafas baru bagi pertumbuhan usaha mikro di perdesaan,” kata dia.
Chief Architect ION, Binu Raj menambahkan, ION juga merevolusi sektor logistik melalui sistem yang saling terhubung (interoperable). ION menggandeng berbagai perusahaan pengiriman yang tergabung dalam Asosiasi Logistik Digital Economy Indonesia (ALDEI), antara lain SiCepat dan AntarAja.
“Logistik adalah bagian yang sangat kompleks di Indonesia karena geografi kepulauan kita. Namun, dengan jaringan terbuka, produk dari pelosok Sulawesi pun akan bisa sampai ke pembeli di Jakarta dengan sistem pengiriman yang terintegrasi,” papar Binu Raj.
Sementara itu, Advisory Council Member ION, T. Koshy mengemukakan, inovasi logistik roda tiga modern, seperti MaxRide di India, bisa diterapkan untuk pengiriman barang lebih efisien sampai ke pelosok desa.
Untuk menjangkau UMKM di perdesaan, ION bekerja sama dengan Yayasan Innotek melalui program ION Hyperlocal atau Desa Emas yang fokus pada digitalisasi perdagangan di tingkat desa.
Sebagai tahap awal, ION menargetkan 100.000 UMKM dapat terintegrasi hingga akhir 2026. Melalui berbagai inisiatif ini, ION optimistis mampu menciptakan pemerataan ekonomi digital yang nyata.
“Semua pelaku usaha, mulai dari perusahaan besar seperti Unilever hingga ibu pengusaha kue di desa terkecil, akan berinteraksi tanpa hambatan di dalam jaringan yang sama,” ujar Koshy. (FN)

