JAKARTA, UMKMTRUST.ID – Lokakarya (workshop) Indonesia Open Network (ION) rampung digelar. Alhasil, platform perdagangan digital berbasis jaringan terbuka itu siap diluncurkan secara resmi (go live) pada Juli 2026, sebelum beroperasi penuh mulai Januari 2027.
Dalam lokakarya di Gedung Smesco, Jumat (22/5/2026), sejumlah peserta dari perusahaan teknologi dan pengembang situs web mempresentasikan aplikasi yang mereka bangun di atas platform ION selama empat hari ini.
Presentasi mencakup solusi e-commerce yang mengaktifkan layanan suara dari kecerdasan buatan (AI) dengan kemampuan multibahasa. Ada pula sistem manajemen rantai pasok, layanan kredit dan keuangan untuk UMKM, aplikasi pasar penjual, hingga platform UMKM untuk menghubungkan bisnis lokal.
Para pengembang mendemonstrasikan jaringan ION sebagai akses demokratis ke e-commerce, karena siapa pun bisa membuat aplikasi penjual sendiri dan terhubung dengan pembeli di seluruh Indonesia.
Dalam sesi presentasi, salah satu peserta asal India menunjukkan berbagai fitur yang dikembangkan di atas jaringan ION. Fitur ini meliputi pencarian suara multibahasa, manajemen pesanan berbasis AI, hingga penerbitan produk yang dapat dilakukan secara lebih cepat dan terintegrasi.
Teknologi pencarian suara itu dirancang mampu mencari berbagai jenis produk di seluruh jaringan ION, melalui satu bilah pencarian yang dapat disematkan pada berbagai aplikasi.
Pengembang pun menunjukkan solusi AI yang dirancang untuk membantu pelaku usaha mengelola pesanan dan operasional bisnis. Dalam demonstrasi, pengguna dapat mencari sekaligus membandingkan produk menggunakan perintah suara.
“Platform ini juga mendukung penempatan pesanan, pelacakan distribusi, hingga layanan multibahasa untuk mempermudah transaksi beragam pelanggan,” tutur peserta asal India.
Operator platform menjelaskan, ekosistem ION memungkinkan merek maupun pelaku usaha mendorong penjualan melalui kampanye yang terintegrasi dengan sistem bisnis mereka. Kelak, konsumen dapat menemukan produk dari berbagai penjual dalam satu jaringan yang saling terkoneksi.
Sistem itu juga dilengkapi kemampuan rekonsiliasi inventaris di berbagai marketplace untuk membantu efisiensi pengelolaan stok dan distribusi barang.

Peserta lain dari tim Pasar Digital (PaDi) UMKM turut mempresentasikan studi kasus integrasi marketplace, serta peran mereka sebagai mitra akselerator dalam pengembangan jaringan kredit di ekosistem ION.
Pada saat bersamaan, diperkenalkan pula sistem manajemen kampanye yang bekerja sama dengan influencer dan kreator media sosial di Indonesia, dengan fokus pada penjualan dan optimalisasi konversi.
“ION dirancang sebagai ekosistem, bukan sekadar aplikasi, kami mengerti bahwa perlu adopsi proses yang sudah ada di Indonesia,” ujar Advisory Council Member ION, T. Koshy.
ION akan diluncurkan secara resmi (go live) pada Juli 2026, bertepatan dengan kunjungan kenegaraan Perdana Menteri (PM) India, Narendra Modi ke Indonesia. PM Modi akan bertemu Presiden Prabowo Subianto.
Kunjungan PM Modi diagendakan sebagai ajang penguatan kolaborasi strategis di sektor digital. Peluncuran ION menjadi simbol kemitraan nyata kedua negara dalam membangun kedaulatan digital yang mandiri.
Fase uji coba ION akan difokuskan di beberapa kota besar, seperti Bandung, Bogor, dan Denpasar. Target berikutnya, pada Januari 2027, ION diharapkan sudah beroperasi secara penuh di seluruh pelosok Indonesia, menciptakan pasar digital yang lebih inklusif dan kompetitif bagi seluruh lapisan pelaku usaha.
Sebagai infrastruktur publik digital publik, ION mengadopsi sistem Open Network for Digital Commerce (ONDC) di India. Indonesia menjadi negara kedua di dunia yang mengadopsi model jaringan terbuka ini, sebuah langkah yang digadang-gadang sebagai ‘demokratisasi perdagangan global’ oleh para inisiatornya.
ION menargetkan satu juta pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) ke dalam platform perdagangan digital berbasis jaringan terbuka itu dalam satu tahun pertama. ION mampu mengatasi biaya tinggi yang selama ini menghambat pelaku usaha kecil untuk masuk ke dalam platform perdagangan digital (marketplace).
Menurut Steering Committee ION, Bayu Prawira Hie, Kementerian UMKM melalui Smesco Indonesia akan menjadi motor penggerak utama sebagai wajah depan dari ekosistem UMKM di ION. Smesco akan berperan dalam kurasi produk dan pelatihan bagi para pelaku usaha agar siap masuk ke pasar digital berbasis ION.
“Prioritas utama akan diberikan kepada produk-produk lokal bersertifikasi ‘Made in Indonesia’ guna memperkuat kedaulatan ekonomi nasional di tengah serbuan produk impor,” tutur Bayu. ION Accelerator, Sachin V Gopalan menjelaskan, berbasiskan ION, pelaku UMKM bisa bertransaksi dengan lebih efisien, sehingga bisa menurunkan komisi platform yang saat ini mencapai 20-30%. “Kalau biaya transaksi digital rendah, UMKM bisa menjual lebih murah kepada pembeli, sekaligus mendapat penghasilan lebih tinggi,” kata Sachin. (ZS)

