YOGYAKARTA, UMKMTRUST.ID – Tim Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM) bersama Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan konsep yang mengintegrasikan budi daya ayam kampung petelur unggul dan larva lalat atau manggot (maggot) dengan teknologi ramah lingkungan.
“Konsep ini mengintegrasikan budi daya ayam kampung petelur unggul dengan teknologi biokonversi menggunakan larva Black Soldier Fly (BSF) dalam suatu sistem ekonomi sirkular yang ramah lingkungan,” kata Ketua Tim Inovasi, Ikhwan Hadianto di Yogyakarta, Kamis (2/7/2026).
Menurut dia, berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa teknologi BSF mampu mereduksi limbah organik secara signifikan sekaligus menghasilkan sumber protein alternatif yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan pakan ternak.
“Karena itu, konsep ini dikembangkan sebagai solusi terhadap tantangan peternakan rakyat, khususnya tingginya biaya pakan dan pengelolaan limbah organik,” ujar dia.
Ikhwan Hadianto menjelaskan, konsep dalam Program Bantuan Pengembangan Modul Kredensial Mikro Berbasis Keahlian 2026 ini telah dikemas dalam pembelajaran digital Massive Open Online Course (MOOC) berjudul “Eco-Farming: Sinergi Peternakan Ayam Kampung Petelur Unggul dan Maggot BSF”.
Modul kredensial mikro, kata dia, memanfaatkan platform UGM online untuk menjangkau peternak, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), mahasiswa, praktisi peternakan, hingga masyarakat umum yang tertarik pada pengembangan pertanian dan peternakan berkelanjutan.

“Harapannya peserta mampu memahami konsep dasar eco-farming, mengelola sistem peternakan ayam petelur yang terintegrasi dengan manggot BSF, serta menerapkan prinsip zero waste dalam usaha peternakan,” papar dia.
Ikhwan mengungkapkan, materi pembelajaran disusun secara komprehensif dalam tujuh submodul, yaitu Konsep Eco-Farming dan Ekonomi Sirkular, Arsitektur Kandang Terintegrasi, Manajemen Pakan Berbasis Maggot, Teknologi Biokonversi dan Zero Waste, Manajemen Kesehatan dan Biosekuriti, Manajemen Produksi dan Pascapanen, serta Analisis Kelayakan Bisnis Sirkular.
Dia menambahkan, proses produksi video pembelajaran dilakukan secara mandiri, mengambil lokasi di peternakan milik pribadi dan lingkungan Fakultas Peternakan UGM. Pendekatan pembelajaran yang digunakan memadukan metode talking head, narasi, dan demonstrasi praktik untuk memberikan pengalaman belajar yang lebih aplikatif dan mudah dipahami peserta.
Ikhwan Hadianto berharap pengembangan MOOC menjadi media diseminasi teknologi tepat guna yang mendukung kemandirian pakan, pengelolaan limbah, serta peningkatan produktivitas peternakan rakyat.
“Modul ini juga diharapkan mampu memperkuat peran UGM dalam mendukung pembelajaran sepanjang hayat, dan akselerasi transformasi digital di sektor pertanian dan peternakan berkelanjutan,” tutur dia. (ant)

