YOGYAKARTA, UMKMTRUST.ID – Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) terus memperkuat daya saing industri batik melalui berbagai program pelatihan dan sertifikasi kompetensi bagi para pelaku usaha. Upaya ini dilakukan untuk menjaga keberlanjutan batik sebagai warisan budaya dunia yang telah diakui oleh United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO), sekaligus meningkatkan daya saing produk batik di pasar global.
Kepala Dinas Pariwisata DIY, Imam Pratanadi mengatakan, pelatihan yang diberikan mencakup berbagai aspek, mulai dari desain hingga teknik pewarnaan menggunakan bahan-bahan alami yang lebih ramah lingkungan.
“Pelatihan itu kegiatan yang cukup penting karena di DIY batik sudah menjadi warisan dunia. Karena itu, kita memiliki tugas dan amanah untuk memastikan status warisan budaya ini tetap terjaga dan terus berkembang di Yogyakarta,” kata Imam di Yogyakarta, Jumat (18/7/2026).
Menurut Imam, penguatan kapasitas pelaku industri batik tidak hanya ditujukan untuk meningkatkan kualitas produk, tetapi juga agar batik Yogyakarta mampu bersaing di pasar internasional dengan mengedepankan prinsip keberlanjutan.
“Kami ingin produk batik tidak hanya berkualitas dan mampu menembus pasar dunia, tetapi juga menjadi green product yang ramah lingkungan. Saat ini, menjaga lingkungan sudah menjadi bagian penting dalam proses produksi,” ujar dia.

Dia menjelaskan, konsep produk ramah lingkungan (green product) menjadi salah satu fokus pembinaan pemerintah daerah (pemda). Karena itu, para pelaku industri batik terus diedukasi mengenai penggunaan bahan pewarna alami sebagai alternatif pengganti zat warna sintetis yang berpotensi menimbulkan dampak lebih besar terhadap lingkungan.
Selain penggunaan bahan baku yang lebih ramah lingkungan, kata Imam Pratanadi, pelaku usaha dibekali pengetahuan mengenai efisiensi penggunaan pewarna sintetis apabila masih digunakan dalam proses produksi.
“Termasuk bagaimana mengelola limbahnya dengan baik dan mengurangi penggunaan air, karena persoalan lingkungan saat ini menjadi tantangan yang harus kita hadapi bersama,” tutur Imam.
Dia mengungkapkan, pelatihan dan sertifikasi kompetensi yang digelar secara rutin setiap bulan diharapkan mampu meningkatkan profesionalisme pelaku ekonomi kreatif. Dengan demikian, proses produksi batik dapat memenuhi standar teknis sekaligus memenuhi ketentuan perlindungan lingkungan.
Imam menambahkan, pembinaan yang dilakukan Dinas Pariwisata DIY tidak hanya menyasar industri batik. Pemda juga terus mengembangkan berbagai subsektor ekonomi kreatif lainnya yang kini telah bertambah dari 19 menjadi 21 subsektor.
“Tidak hanya batik yang kami fasilitasi. Selain subsektor kriya, sektor kuliner di DIY juga memiliki potensi yang sangat besar dan terus kami dorong untuk berkembang,” ucap dia. (ant)

