HomePerdaganganIndoFringe dan ION Bisa Menjadi Mesin Baru Ekonomi Kreatif Anak Muda Indonesia

IndoFringe dan ION Bisa Menjadi Mesin Baru Ekonomi Kreatif Anak Muda Indonesia

“Transformasi digital sangat penting untuk membangun ekosistem ekonomi kreatif yang lebih inklusif bagi generasi muda Indonesia.”

JAKARTA, UMKMTRUST.ID –  Pendiri dan penggerak IndoFringe, Sachin Gopalan menyatakan, transformasi digital sangat penting untuk membangun ekosistem ekonomi kreatif yang lebih inklusif. Untuk itu, ia mendorong IndoFringe dan Indonesia Open Network (ION) menjadi mesin baru ekonomi kreatif anak muda Indonesia.

“Transformasi digital sangat penting untuk membangun ekosistem ekonomi kreatif yang lebih inklusif bagi generasi muda Indonesia,” kata Sachin dalam sesi talkshowDigitizing Culture and Creativity: Powering the Next Wave of Creative Economy” pada rangkaian hari pertama Jakarta Marketing Week 2026 di Kota Kasablanka, Jakarta, Rabu (6/5/2026).

Menurut Sachin, langkah tersebut diperlukan untuk menjawab tantangan terbesar para pelaku ekonomi kreatif saat ini, yakni sulitnya memperoleh pasar dan tingginya biaya platform digital konvensional.

Creative economy tidak jalan karena komisi strukturnya terlalu mahal. Banyak platform mengambil komisi 25-40%. Karena itu, kami bangun ION dengan biaya jauh lebih rendah, sekitar 2-3% saja,” ujar dia.

Pendiri dan penggerak IndoFringe, Sachin Gopalan dalam talkshow  rangkaian hari pertama Jakarta Marketing Week 2026 di Kota Kasablanka, Jakarta, Rabu (6/5/2026). Foto: Ist

Dia menambahkan, IndoFringe tidak lagi sekedar festival seni dan kreativitas anak muda, tetapi tengah berkembang menjadi gerakan ekonomi kreatif berbasis digital yang terhubung dengan ION, sebuah infrastruktur perdagangan digital terbuka yang didukung pemerintah.

Marketplace untuk Talenta Muda

Sachin Gopalan mengungkapkan, timnya sedang mengembangkan platform digital baru untuk IndoFringe yang bakal diluncurkan pada Oktober mendatang. Platform tersebut dirancang sebagai lokapasar (marketplace) bagi siswa, mahasiswa, hingga anak muda yang belum memiliki pekerjaan tetap.

“Tujuannya agar mereka mendapat menawarkan keterampilan mereka secara langsung kepada pasar,” tutur dia.

Sachin mencontohkan berbagai jenis pekerjaan kreatif yang bisa diakses melalui platform tersebut, dari fotografi, videografi, desain grafis, penulisan konten, hingga jasa kreatif lainnya yang berkaitan dengan ekonomi digital.

Sachin Gopalan menambahkan,  banyak anak muda yang sebenarnya memiliki bakat dan kemampuan, tetapi tidak memiliki akses terhadap pasar. Platform digital tersebut diharapkan menjadi jembatan antara talenta muda dan kebutuhan industri kreatif.

“Kalau punya talent, mereka bisa pasarkan lewat digital dan dapat short project. Mungkin nilainya tidak besar, tapi bisa menjadi source of income bagi anak muda,” ucap dia.

Kelak, kata Sachin, platform tersebut memiliki fitur jual beli, penyewaan alat, layanan kreatif, pencarian kerja, hingga konektivitas dengan aplikasi lain yang tergabung dalam ekosistem jaringan terbuka (open network).

ION: Demokratisasi Ekonomi

Sachin Gopalan juga menyoroti peran ION yang bakal menjadi fondasi penting bagi demokratisasi ekonomi digital di Indonesia.

ION merupakan infrastruktur publik  untuk perdagangan yang dikembangkan bersama pemerintah, termasuk Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemenkomdigi) serta Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), agar masyarakat dapat mengakses layanan digital dengan biaya lebih murah.

Pendiri dan penggerak IndoFringe, Sachin Gopalan saat memaparkan Indofringe dan Indonesia Open Network (ION) sebagai mesin baru ekonomi kreatif anak muda Indonesia dalam sesi talkshowDigitizing Culture and Creativity: Powering the Next Wave of Creative Economy” pada rangkaian hari pertama Jakarta Marketing Week 2026 di Kota Kasablanka, Jakarta, Rabu (6/5/2026). Foto: Ist

“Kalau platform mengambil komisi terlalu besar, akhirnya yang kaya hanya platform. Pemerintah ingin commerce lebih demokratis sehingga masyarakat juga bisa menikmati manfaat ekonomi digital,” tegas dia.

Melalui koneksi dengan ION, menurut Sachin, talenta-talenta kreatif di IndoFringe nantinya dapat menawarkan jasa mereka melalui berbagai aplikasi besar yang telah terhubung dalam jaringan tersebut, termasuk operator telekomunikasi dan platform digital lain.

“Model open network akan membuka peluang lebih luas bagi pekerja kreatif independent, seperti MC, moderator, penyanyi, pelukis, hingga content creator untuk memperoleh pasar tanpa terbebani biaya tinggi,” tandas dia.

Menjadi Gerakan Nasional

Sachin Gopalan menjelaskan, IndoFringe telah berkembang pesat dalam tiga tahun terakhir. Lebih dari 500 sekolah telah terlibat dalam berbagai festival yang diselenggarakan IndoFringe.

Dia mengakui, awalnya banyak sekolah ragu mengikuti festival lintas sekolah karena khawatir terjadi konflik antarpelajar. Namun pengalaman selama beberapa tahun justru menunjukkan, kegiatan seni mampu membangun suasana yang lebih damai dan kolaboratif.

“Kegiatan ekonomi kreatif membuat anak muda lebih bersahabat. Tidak seperti kompetisi olahraga yang kadang terlalu kompetitif,” ujar dia.

Ke depan, kata dia, IndoFringe menargetkan ekspansi lebih besar dengan melibatkan kampus-kampus dan komunitas kreatif di berbagai daerah. Bahkan pada 2028, IndoFringe menargetkan penyelenggaraan 500 festival serentak di seluruh Indonesia dalam waktu 10 hari.

Pendiri dan penggerak IndoFringe, Sachin Gopalan (tengah) berfoto bersama usai talkshowDigitizing Culture and Creativity: Powering the Next Wave of Creative Economy” pada rangkaian hari pertama Jakarta Marketing Week 2026 di Kota Kasablanka, Jakarta, Rabu (6/5/2026). Foto: Ist

Menurut Sachin, digitalisasi menjadi kunci utama untuk mewujudkan target ambisius tersebut karena seluruh koordinasi, mobilisasi relawan, hingga promosi kegiatan akan terhubung melalui platform digital.

Ruang untuk Semua Bidang Kreatif

Sachin Gopalan mengemukakan, IndoFringe tidak membatasi diri hanya pada seni pertunjukan. Seluruh aktivitas yang melibatkan kreativitas, komunikasi, exhibition, hingga teknologi dapat menjadi bagian dari ekosistem ekonomi kreatif.

Sementara itu, dalam sesi tanya jawab dengan mahasiswa yang hadir di Jakarta Marketing Week 2026, Sachin menuturkan, bidang seperti teknologi, digital content, hingga kompetisi elektronika nasional juga dapat menjadi bagian dari IndoFringe selama dikemas dalam format exhibition atau performance.

Sachin Gopalan menilai ekonomi kreatif telah berkembang jauh lebih luas, termasuk di bidang content creator, videografi, script writing, gaming, hingga digital exhibition. “Kami ingin semua orang bisa membawa ide dan mengomersialisasikannya. Jadi, bukan sekadar kegiatan sukarela, tetapi juga menjadi business proposition,” tegas dia.

Pesan untuk Generasi Muda

Sachin mengingatkan generasi muda agar tidak sepenuhnya bergantung pada teknologi dan kecerdasan buatan (AI) dalam kehidupan sehari-hari.  Kemampuan komunikasi dan keberanian untuk bertanya tetap menjadi keterampilan paling penting di era digital. “Sekarang semua bisa dicari di Google atau ChatGPT, tapi jangan lupa human interaction tetap penting. Human in the loop itu harus tetap ada,” tandas dia.***

RELATED ARTICLES

Trending Posts