HomeUncategorized @idInvestasi Naik 30%, Ekraf Jadi Mesin Pertumbuhan Ekonomi

Investasi Naik 30%, Ekraf Jadi Mesin Pertumbuhan Ekonomi

“Tantangan utamanya adalah memperluas investasi ke berbagai daerah melalui penguatan ekosistem, peningkatan kapasitas SDM, perlindungan kekayaan intelektual, serta perluasan akses pembiayaan.”

JAKARTA, UMKMTRUST.ID –  Kementerian Ekonomi Kreatif mencatat realisasi investasi ekonomi kreatif (ekraf) pada 2025 tumbuh 30% lebih. Dengan pencapaian itu, sektor ekraf berpotensi menjadi salah satu mesin pertumbuhan ekonomi nasional.

Sekretaris Kementerian Ekraf, Dessy Ruhati mengungkapkan, prospek investasi di subsektor ekonomi kreatif masih didominasi subsektor aplikasi dengan nilai investasi Rp54,18 triliun, diikuti subsektor kriya, fashion, serta kuliner. Komposisi tersebut menunjukkan bahwa ekonomi digital Indonesia berkembang sangat pesat.

“Perkembangan investasi yang terus menunjukkan tren positif. Ke depan, tantangan utama adalah memperluas investasi ke berbagai daerah melalui penguatan ekosistem, peningkatan kapasitas SDM, perlindungan kekayaan intelektual, serta perluasan akses pembiayaan,” kata Dessy dalam keterangan resmi di Jakarta, Selasa (14/7/2026).

Menurut Dessy Ruhati, kinerja investasi ekraf sejalan dengan meningkatnya penerimaan produk kreatif Indonesia di pasar internasional. Terbukti nilai ekspor ekonomi kreatif Indonesia berbasis barang, seperti fashion, mencapai US$ 16,3 juta, diikuti kriya US$ 12 juta. “Kuliner  juga menunjukkan perkembangan  sangat menggembirakan,” tutur dia.

Dessy menjelaskan,  Kemenekraf  juga terus mengupayakan pencatatan nilai ekspor dari jasa kreatif, seperti konten digital, desain, animasi, musik, film, aplikasi, dan berbagai layanan kreatif lain yang  belum seluruhnya optimal.

Ilustrasi batik Bangka-Belitung sebagai salah satu produk kreatif  Indonesia. Foto: Antara.
Ilustrasi batik Bangka-Belitung sebagai salah satu produk kreatif Indonesia. Foto: Antara.

Selain itu, sektor ekraf  memberikan kontribusi terhadap penyerapan tenaga kerja produktif, khususnya generasi muda,  yang menjadikan sektor ini strategis dalam menjawab tantangan penciptaan lapangan kerja nasional.

“Pada akhirnya, lapangan kerja tersebut akan bermuara pada peningkatan nilai tambah dan pertumbuhan ekonomi nasional,” ujar dia.

Untuk meningkatkan prospek ekonomi kreatif sebagai mesin baru pertumbuhan ekonomi, kata Dessy Ruhati, Kemenekraf menerapkan pendekatan Hexahelix, yaitu sinergi antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, komunitas, lembaga keuangan, serta media.

Dessy berharap kolaborasi tersebut mampu meningkatkan kapasitas pelaku usaha, memperluas perlindungan kekayaan intelektual, mempermudah proses valuasi, perluasan akses pasar, hingga evaluasi terhadap dampak ekonomi yang dihasilkan.

“Indonesia tidak kekurangan ide, Indonesia tidak kekurangan talenta, Indonesia juga tidak kekurangan kreatifitas. Yang masih perlu kita bangun bersama adalah ekosistem yang mampu mengubah kreativitas menjadi kekuatan ekonomi nasional,” papar Dessy.

Dessy mengatakan, Kemenekraf menargetkan investasi di sektor ekraf sebesar Rp133,74 triliun hingga Rp157,65 triliun untuk mendukung pertumbuhan ekonomi nasional pada 2027.

Target ini sesuai mandat Presiden melalui Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029 dalam mendukung arah Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2027, yaitu akselerasi pertumbuhan berkualitas melalui produktivitas, investasi dan industri.

Kemenekraf juga diamanatkan mendukung arah RKP 2027 guna mencapai laju pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) ekraf sebesar 5,8%, pertumbuhan ekspor 5,5%, nilai ekspor US$29,39 miliar, penyerapan tenaga kerja mencapai 26,58 juta orang, serta pertumbuhan investasi 6,2-7,6%. (ant)

RELATED ARTICLES

Trending Posts