JAKARTA, UMKMTRUST.ID – PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) mengembangkan program pemberdayaan petani kopi di Area Kamojang, Garut, Jawa Barat agar mereka bisa menembus pasar ekspor. Hal itu merupakan wujud komitmen PGE dalam mengembangkan energi bersih guna memperkuat ketahanan energi nasional, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat lokal dan menjaga kelestarian lingkungan.
Menurut Vice President Corporate Communications PT Pertamina (Persero), Muhammad Baron, Kamojang memiliki arti penting dalam sejarah pengembangan energi panas bumi di Indonesia sekaligus menjadi contoh bagaimana energi terbarukan mampu memberikan manfaat ekonomi yang luas bagi masyarakat.
“Seratus tahun silam, potensi panas bumi Indonesia pertama kali ditemukan di Kamojang. Hari ini, kita melihat bagaimana sejarah tersebut berkembang tidak hanya menjadi sumber energi bersih yang andal namun sekaligus memberi manfaat nyata bagi masyarakat,” kata Muhammad Baron saat mengunjungi PGE Area Kamojang, baru-baru ini.
Baron menjelaskan, perusahaan panas bumi milik PT Pertamina (Persero) itu ingin memperlihatkan bahwa pengembangan panas bumi tidak berhenti pada penyediaan listrik, tetapi juga mampu menjaga lingkungan sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat di sekitar wilayah operasi.
Dia mengungkapkan, Kamojang yang berada di ketinggian sekitar 1.500 meter di atas permukaan laut telah lama dikenal sebagai salah satu sentra kopi arabika di Jawa Barat. Seiring berkembangnya industri panas bumi, kawasan itu juga menjadi contoh pemanfaatan energi panas bumi secara langsung untuk mendukung sektor pertanian.
PGE mengembangkan teknologi geothermal dry house yang memanfaatkan steam trap panas bumi sebagai sumber panas alternatif untuk proses pengeringan biji kopi. “Inovasi ini menghasilkan proses pengeringan yang lebih higienis dengan tingkat kematangan yang lebih seragam dibandingkan metode konvensional,” tutur dia.
Dari sisi operasional, kata Muhammad Baron, teknologi tersebut mampu mempercepat proses pengeringan hingga tiga kali lipat dengan tingkat efisiensi mencapai 300%. Jika sebelumnya petani membutuhkan waktu 30-45 hari, kini proses pengeringan dapat diselesaikan hanya dalam 3-10 hari.

“Percepatan proses tersebut tidak hanya meningkatkan kapasitas produksi, tetapi juga menekan biaya operasional sekaligus menjaga kualitas biji kopi sehingga memiliki nilai jual yang lebih tinggi di pasar,” papar Baron.
Saat ini, menurut Baron, PGE bermitra dengan tiga kelompok tani, yakni Ecovill, Akkar, dan Penyoeka Kopi. Program tersebut telah memberdayakan sekitar 320 keluarga petani kopi di sekitar wilayah Kamojang. Hasilnya, Kopi Kamojang berhasil menembus pasar ekspor. Para petani telah berhasil mengekspor 20 ton kopi ke sejumlah negara di Asia dan Eropa.
“Capaian tersebut menunjukkan bahwa pemanfaatan energi panas bumi dapat berjalan seiring dengan peningkatan daya saing produk local,” ujar dia.
Sementara itu, Corporate Secretary PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO), Muhammad Taufik mengungkapkan, pemanfaatan langsung energi panas bumi melalui geothermal dry house menjadi salah satu bukti bahwa sumber energi terbarukan mampu memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas.
“Seratus tahun perjalanan panas bumi di Indonesia menunjukkan bahwa energi ini merupakan sumber daya yang berkelanjutan dan berasal dari potensi asli Indonesia,” tutur dia.
Dia menambahkan, melalui inovasi seperti geothermal dry house, perusahaan ingin memperlihatkan bahwa panas bumi tidak hanya menghasilkan listrik, tetapi juga dapat dimanfaatkan secara langsung untuk meningkatkan kualitas produk lokal dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Selain mengembangkan inovasi di sektor pertanian, kata Taufik, PGE terus menjalankan berbagai program pemberdayaan masyarakat di sekitar wilayah operasinya. Melalui program di bidang ekonomi, sosial, dan lingkungan, PGE Area Kamojang telah menjangkau sekitar 15.000 penerima manfaat.
“Program-program tersebut menjadi bagian dari komitmen perusahaan untuk memastikan pengembangan energi panas bumi memberikan manfaat berkelanjutan, baik bagi masyarakat maupun lingkungan,” ujar dia.
Muhammad Taufik menegaskan, pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa pengembangan energi bersih dapat berjalan beriringan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat. “Pada saat yang sama, keberadaan pembangkit panas bumi juga mendukung ketahanan energi nasional melalui penyediaan energi rendah emisi sekaligus menciptakan nilai tambah bagi perekonomian lokal,” ucap dia. (wb)

