HomeUncategorized @idMenteri Ekraf: Film Internasional yang Diproduksi di Indonesia Ikut Gerakkan UMKM

Menteri Ekraf: Film Internasional yang Diproduksi di Indonesia Ikut Gerakkan UMKM

"Film internasional yang diproduksi di Indonesia tidak hanya membuka peluang penyerapan tenaga kerja lokal, tetapi juga turut menggerakkan sektor perhotelan, kuliner, transportasi, logistik, UMKM, dan pariwisata."

JAKARTA, UMKMTRUST.ID – Menteri Ekonomi Kreatif (Menekraf), Teuku Riefky Harsya menyatakan, film internasional yang diproduksi di Indonesia tidak hanya membuka peluang penyerapan tenaga kerja lokal, tetapi juga turut menggerakkan sektor perhotelan, kuliner, transportasi, logistik, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta pariwisata.

Riefky menegaskan, film internasional yang diproduksi  di Indonesia memberikan dampak berganda yang positif bagi aktivitas perekonomian nasional, sekaligus membuka peluang peningkatan investasi di subsektor perfilman.

“Produksi film tidak hanya dapat membuka peluang melalui penyerapan tenaga kerja lokal, tetapi juga mampu  menggerakkan sektor perhotelan, kuliner, transportasi, logistik, UMKM hingga pariwisata,” kata Riefky dalam keterangan di Jakarta, Senin (10/8/2026).

Dia berharap film internasional yang diproduksi di Indonesia  pun turut meningkatkan kualitas film-film nasional dan menjadi ajang promosi Indonesia ke panggung internasional.

“Kita ingin culture Indonesia, alam Indonesia, tim production dan talent–talent Indonesia juga bisa semakin berkolaborasi. Dalam kolaborasi itu kan  tidak hanya mempromosikan Indonesia, tetapi juga ada transfer knowledge, ada transfer teknologi, dan banyak hal untuk mendukung industri film Indonesia sebagai diplomasi kita ke dunia internasional,” papar dia.

Menekraf pada Jumat (7/8/2026) meninjau proses syuting film internasional Happy Eyes di Taman Safari Indonesia, Cisarua, Bogor.  Film tersebut merupakan kolaborasi produksi antara Moana Films asal Prancis dan studio Indonesia Jungle Run Productions.

Riefky Harsya mengungkapkan,  dampak produksi film tidak berhenti pada industri perfilman. Selama proses produksi, kebutuhan terhadap akomodasi, makanan dan minuman, transportasi, logistik, hingga berbagai jasa pendukung turut menciptakan aktivitas ekonomi di daerah lokasi syuting.

Selain dampak langsung selama produksi, kata dia, film internasional berpotensi memberikan manfaat jangka panjang melalui promosi destinasi Indonesia. “Lokasi yang tampil dalam film dapat menjadi daya tarik baru bagi wisatawan setelah film tersebut ditayangkan,” tutur dia.

Pemerintah, menurut Riefky Harsya,  juga terus mendorong kemudahan bagi produksi film internasional, termasuk melalui koordinasi perizinan, visa, serta keluar-masuk peralatan produksi.

“Dalam memberikan dukungan film produksi internasional seperti ini, kami terus berkolaborasi sehingga dapat mempermudah, apakah itu kaitannya dengan visa, perizinan, masuknya perlengkapan peralatan, hingga dikeluarkannya kembali,” papar dia.

Dia menjelaskan, kemudahan tersebut diperlukan untuk meningkatkan daya tarik Indonesia sebagai lokasi produksi sekaligus mendorong investasi asing langsung (foreign direct investment/FDI) di subsektor perfilman.

Film  Happy Eyes menjalani proses produksi selama sekitar 40 hari di Indonesia dengan lokasi syuting utama di Taman Safari Bogor dan Tanjung Lesung, Banten. Produksi tersebut melibatkan sekitar 40 kru asing dan 180 kru Indonesia.

Executive Producer Happy Eyes, Joe Yaggi mengemukakan, sekitar 70% dari sekitar 200 kru yang terlibat dalam produksi berasal dari Indonesia. Keterlibatan kru lokal menjadi kesempatan meningkatkan kemampuan tenaga kreatif Indonesia agar mampu bekerja dalam standar produksi internasional.

“Kru dari Prancis sangat senang bekerja dengan kru kita. Mereka sangat impress dengan kru kita. Jadi, kita ada kesempatan di sini. Saya harap film yang seperti ini lebih banyak karena kru kita bisa kerja di tingkat internasional,” ujar Joe.

Dia menambahkan, dengan kekayaan alam, budaya, keanekaragaman hayati, serta talenta lokal yang tersedia, pemerintah berharap semakin banyak produksi film internasional memilih Indonesia.

“Kehadiran produksi tersebut diharapkan tidak hanya memperkuat industri film nasional, tetapi juga memperluas manfaat ekonomi ke berbagai sektor dan daerah,” tandas dia. (ant)

RELATED ARTICLES

Trending Posts