HomeProduk Dalam NegeriKemendag: Tempe Berpeluang Jadi Produk Unggulan di Pasar AS

Kemendag: Tempe Berpeluang Jadi Produk Unggulan di Pasar AS

"Tempe memiliki prospek paling cerah untuk dikembangkan di pasar AS seiring meningkatnya tren konsumsi pangan nabati (plant-based food), makanan fermentasi, dan gaya hidup sehat (healthy lifestyle)."

JAKARTA, UMKMTRUST.ID –  Kementerian Perdagangan (Kemendag) menyarakan, produk pangan olahan Indonesia, termasuk tempe,  membukukan potensi transaksi sebesar US$8,3 juta atau sekitar Rp150,7 miliar dalam pameran Summer Fancy Food Show (SFFS) di New York, Amerika Serikat (AS).

Atase Perdagangan (Atdag) RI Washington DC, Ranitya Kusumadewi mengungkapkan, pameran tersebut telah membuka peluang bagi tempe menjadi salah satu produk Indonesia yang berpotensi menembus pasar AS.

“Kami terus mengawal berbagai tindak lanjut penjajakan bisnis (business matching) yang terjadi selama pameran agar potensi transaksi dapat terealisasi menjadi kontrak ekspor. Selain potensi transaksi, kami melihat minat buyer terhadap tempe sangat tinggi seiring berkembangnya tren pangan nabati di AS,” tutur Ranitya dalam keterangan di Jakarta, Jumat (31/7/2026).

Ranitya menjelaskan, dari serangkaian pertemuan bisnis dengan calon pembeli, tempe dinilai sebagai salah satu produk Indonesia yang memiliki prospek paling cerah untuk dikembangkan di pasar AS. Hal ini didorong meningkatnya tren konsumsi pangan nabati (plant-based food), makanan fermentasi, dan gaya hidup sehat (healthy lifestyle).

Tren tersebut, menurut Ranitya, telah mendongkrak permintaan terhadap produk berbahan nabati.  Kondisi tersebut membuka peluang bagi tempe untuk menjadi salah satu produk unggulan (champion product) Indonesia di pasar AS.

Ilustrasi perajin tahu dan tempe. Foto: Antara.
Ilustrasi perajin tahu dan tempe. Foto: Antara.

“Tingginya minat buyer perlu diimbangi dengan kesiapan pelaku usaha dalam menjaga kapasitas produksi, konsistensi pasokan, pemenuhan standar mutu, serta penguatan kemasan dan strategi pemasaran. Dengan demikian, peluang bisnis yang tercipta dapat berlanjut menjadi ekspor yang berkelanjutan,” papar dia.

Dalam ajang ini, Paviliun Indonesia menampilkan enam pelaku usaha dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Produk yang ditampilkan meliputi kopi, kakao dan produk cokelat, makanan ringan, serta mi instan.

Turut pula ditampilkan makanan sehat, seperti tempe, makanan berbahan dasar kelapa, bumbu dan rempah, madu, gula aren, serta aneka pangan olahan.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) dan Kemendag menunjukkan, AS merupakan pasar ekspor pangan terbesar kedua bagi Indonesia setelah China. Pada 2025, nilai ekspor produk pangan RI ke AS tercatat US$5,97 miliar, naik 14,06% dibandingkan tahun sebelumnya US$5,23 miliar. Nilai tersebut berkontribusi sekitar 10,1% terhadap total ekspor pangan Indonesia ke pasar dunia yang mencapai US$59,04 miliar pada 2025.

Dalam lima tahun terakhir, nilai ekspor pangan Indonesia ke AS tercatat berfluktuasi, yakni US$5,62 miliar pada 2021, US$6,03 miliar (2022), US$4,96 miliar (2023), US$5,23 miliar (2024), dan US$5,97 miliar (2025). Pada Januari-Mei 2026, total perdagangan Indonesia dengan AS mencapai US$18,44 miliar.

Dari nilai tersebut, berdasarkan data BPS dan Kemendag, ekspor Indonesia mencapai US$12,73 miliar, sedangkan impor sebesar US$5,71 miliar. Alhasil, Indonesia membukukan surplus perdagangan sebesar US$7,02 miliar.

Sepanjang 2025, total perdagangan kedua negara mencapai US$43,80 miliar, dengan nilai ekspor Indonesia sebesar US$30,96 miliar  dan impor US$ 12,85 miliar. Pada tahun tersebut, Indonesia juga mencatatkan surplus perdagangan sebesar US$18,11 miliar. (ant)

RELATED ARTICLES

Trending Posts