DENPASAR, UMKMTRUST.ID – Bali Flower Festival (BFF) 2026 sukses menarik hampir 5.000 pengunjung selama dua hari penyelenggaraan di UID Bali Campus, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kura Kura Bali, Denpasar. Festival ini tak hanya menjadi ajang pameran bunga, tetapi juga ruang kolaborasi bagi pelaku seni, perangkai bunga, serta pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Ketua Panitia BFF 2026, Yuliana Rara mengungkapkan, jumlah pengunjung BFF 2026 yang digeoar pada 14-16 Juli jauh melampaui target yang dipatok penyelenggara.
“BFF 2026 menargetkan 3.000 hingga 3.500 pengunjung. Namun antusiasme masyarakat sangat tinggi. Selama dua hari penyelenggaraan tercatat sebanyak 4.813 orang mengunjungi UID Bali Campus, KEK Kura Kura Bali,” ujar Yuliana di Denpasar, Jumat (18/7/2026).
Menurut Yuliana, capaian tersebut sekitar 38% lebih tinggi dari ekspektasi panitia dan menjadi bukti besarnya minat masyarakat terhadap festival bunga di Pulau Dewata. Memasuki penyelenggaraan tahun ketiga, BFF menghadirkan ratusan jenis bunga, termasuk berbagai bunga langka yang jarang ditemukan di pasaran.
“Festival ini juga dirancang sebagai wadah kolaborasi bagi pelaku seni dan UMKM di bidang seni merangkai bunga,” tutur dia.
Yuliana Rara menjelaskan, mengusung tema Grow Authentically, BFF 2026 tidak hanya menampilkan pameran bunga, tetapi juga menghadirkan seminar, sesi panel bisnis, hingga lokakarya yang diikuti ratusan peserta dari berbagai kalangan pecinta bunga.
Salah satu pembeda utama penyelenggaraan tahun ini, menurut Yuliana, adalah keterlibatan UMKM dalam skala yang lebih besar. “Tahun ini kami mengajak lebih banyak UMKM untuk berpartisipasi. Sebagian memang memiliki usaha toko bunga, tetapi banyak juga yang menghadirkan berbagai produk kreatif lainnya,” papar dia.
Dia menambahkan, salah satu daya tarik utama festival adalah Flower Museum yang berlokasi di Ruang Melajah, UID Bali Campus. Area tersebut menjadi galeri yang menampilkan karya-karya para floral designer Indonesia.
Yuliana menilai lokasi penyelenggaraan di kawasan KEK Kura Kura Bali turut menjadi magnet tersendiri bagi pengunjung, terutama generasi muda.
“Banyak peserta merasa KEK Kura Kura Bali tidak terlalu formal karena mengusung konsep kampus. Tempat ini mudah diterima oleh anak-anak Generasi Z, memiliki banyak sudut menarik, serta area yang luas sehingga sangat mendukung berbagai kegiatan kreatif,” ucap dia.
Sementara itu, President UID Foundation, Tantowi Yahya mengatakan, keberhasilan festival tidak hanya diukur dari tingginya jumlah pengunjung, tetapi juga dari kemampuannya menghadirkan ruang bagi berkembangnya industri kreatif berbasis seni bunga.
“Kami sangat senang Bali Flower Festival kembali digelar di UID Bali Campus, KEK Kura Kura Bali. Festival ini bukan sekadar pameran bunga, tetapi menjadi tempat bertemunya kreativitas dan peluang bisnis,” ujar Tantowi.
Mantan Duta Besar Indonesia untuk Selandia Baru itu mengemukakan, festival tersebut menjadi ruang bagi para pelaku industri kreatif untuk belajar, saling menginspirasi, serta memperkenalkan karya terbaik kepada masyarakat.
Ia juga menilai penyelenggaraan kegiatan seperti ini sejalan dengan visi KEK Kura Kura Bali dalam mendorong pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan. Perhetalan ini mampu menciptakan lapangan kerja, menggerakkan ekonomi lokal, memberdayakan masyarakat, sekaligus menjaga lingkungan dan budaya.
Salah seorang pengunjung, Celine, mengaku tertarik datang setelah melihat informasi mengenai festival tersebut di media sosial. Sebagai pecinta bunga, ia memanfaatkan kesempatan itu untuk mencari berbagai jenis bunga langka yang sulit ditemukan di toko bunga di Bali.
“Acara yang memberikan pengalaman langsung seperti ini memang sedang diminati. Pada akhirnya kita semua membutuhkan ruang untuk beristirahat sejenak, melepas penat, dan melakukan hal-hal yang membuat hati senang,” tutur dia. (ant)

