JAKARTA, UMKMTRUST.ID – Menteri Pariwisata (Menpar), Widiyanti Putri Wardhana mengatakan, Indonesia kini fokus mengembangkan wisata kebugaran (wellness tourism) yang berkualitas dan berdaya saing secara global.
“Wellness tourism kami tetapkan sebagai salah satu fokus dalam pengembangan pariwisata berkualitas,” kata Widiyanti dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (16/7/2026).
Menurut Widiyanti, dalam pengembangannya, pemerintah melalui Kementerian Pariwisata (Kemenpar) telah menghadirkan program Wonderful Indonesia Wellness.
Dia menjelaskan, Wonderful Indonesia Wellness dilaksanakan selama satu bulan penuh dari 1 sampai 30 November 2025, dan menyatukan festival regional Royal Surakarta Wellness Festival yang diselenggarakan oleh Keraton Surakarta dengan Jogja Cultural Wellness Festival yang diadakan Badan Promosi Pariwisata Daerah Yogyakarta.
Royal Surakarta Wellness Festival, kata Widiyanti, mencakup sejumlah kegiatan, seperti Javanese Wisdom Immersion, Gending for Therapy, Royal Dance Symphony, A Holy Journey, dan Javanese Secret Recipe.
Adapun Jogja Cultural Wellness Festival menghadirkan sesi-sesi kebugaran, seperti healthy food and herbals, eco-friendly living, spiritual wellness and energy healing, natural beauty, family and inner child, serta harmony in wellness.
“Kemenpar akan terus mendorong penyelenggaraan berbagai event yang menggabungkan olahraga, pariwisata, dan gaya hidup sehat,” tutur dia.
Widiyanti menegaskan, wisata kebugaran perlu dikembangkan karena pariwisata bukan lagi bicara tentang destinasi wisata mana yang dituju wisatawan, melainkan tentang keinginan untuk mendapatkan pengalaman yang lebih bermakna.
“Kita sedang memasuki era ketika pengalaman menjadi lebih berharga daripada kepemilikan. Hubungan antarmanusia menjadi lebih bernilai daripada sekadar kemudahan dan waktu yang dihabiskan jauh dari dunia digital menjadi sebuah kemewahan,” papar dia.

Widiyanti Putri Wardhana mengungkapkan, kini semakin banyak orang yang ingin melepaskan diri dari rutinitas, menikmati momen dan benar-benar merasakan hidup. Seiring berkembangnya kecerdasan buatan (AI) yang kian terintegrasi dalam kehidupan sehari-hari, muncul pula tren yang berlawanan di dunia nyata.
Dia mengemukakan, masyarakat pun kini semakin menggambarkan pengalaman yang autentik, interaksi yang nyata, serta tempat-tempat yang mampu membangkitkan emosi dan meninggalkan kesan mendalam.
“Extreme AI is creating extreme analog. Tren tersebut tercermin dari berkembangnya experience di bidang ekonomi, termasuk sektor fitness and wellness yang menjadi salah satu industri dengan pertumbuhan tercepat di dunia,” tandas dia.
Widiyanti menuturkan, berdasarkan Global Wellness Institute, nilai global industri yang berfokus pada kebugaran (wellness economy) mencapai US$ 6,8 triliun pada 2024 dan diproyeksikan meningkat menjadi US$ 9,75 triliun pada 2029.
UN Tourism menyebutkan, wisata olahraga menyumbang sekitar 10% dari total belanja wisata global pada 2023 dan diproyeksikan terus tumbuh hingga 17,5% pada 2023 hingga 2030.
Selain itu, berdasarkan survei American Express Travel yang dimuat dalam Indonesia Tourism Outlook 2025/2026 hasil kolaborasi Kemenpar bersama Bappenas dan Bank Indonesia (BI), wisatawan khususnya dari kalangan milenial dan gen Z diproyeksikan semakin aktif melakukan perjalanan, baik domestik maupun internasional.
“Motivasinya tidak hanya mengunjungi destinasi tetapi juga untuk memperoleh pengalaman baru, menghadiri events, serta menikmati aktivitas olahraga dan kebugaran,” kata Menpar.
Data Global Wellness Institute pada 2024 menunjukkan, Indonesia merupakan negara wellness economy terbesar di Asia Tenggara dengan nilai US$ 55,77 miliar.
Di sisi lain, survey Nielsen 2025 mengungkapkan, 86% masyarakat Indonesia kini semakin proaktif menjaga Kesehatan, bahkan berada di atas rata-rata global. Seluruh penggabungan ini menunjukkan bahwa Indonesia memiliki peluang yang sangat dekat untuk menjadi salah satu destinasi unggulan sports and wellness tourism di kawasan.
“Kami meyakini bahwa pengembangan wellness tourism dapat berhasil melalui kolaborasi yang erat antara pemerintah, dunia usaha, komunitas, dan seluruh pemangku kepentingan,” ucap Widiyanti. (ant)

