JAKARTA, UMKMTRUST.ID – Kementerian Ekonomi Kreatif/ Badan Ekonomi Kreatif (Barekraf) mendorong pengembangan kekayaan intelektual atau intellectual property (IP) film bertema budaya lokal. Langkah ini bertujuan mendorong peningkatan ekonomi daerah.
“Kemenekraf akan mengembangkan film garapan SKAK Studios dan SinemArt berjudul Foufo melalui rangkaian audiensi, peluang kolaborasi strategis, penguatan IP, fasilitasi kolaborasi strategis lintas sektor, hingga perluasan awareness terhadap film melalui berbagai kesempatan,” kata Menteri Ekonomi Kreatif (Menekraf)/Kepala Barekraf, Teuku Riefky Harsya di Jakarta, Minggu (5/7/2026).
Menekraf menegaskan, budaya tidak hanya dilestarikan, tetapi juga dapat dihilirisasi melalui kreativitas, inovasi, dan teknologi, sehingga memberikan manfaat ekonomi. “Kami berharap semakin banyak sineas di berbagai daerah yang berani mengangkat kearifan lokal melalui karya-karya kreatif,” ujar dia.
Menurut Riefky Harsya, Foufo adalah bukti nyata bahwa budaya dapat menjadi fondasi produk ekonomi kreatif yang memberikan nilai tambah bagi masyarakat. Keberanian mengangkat bahasa daerah, memberikan ruang bagi talenta baru, dan pengembangan IP merupakan langkah strategis untuk memperkuat ekosistem ekonomi kreatif nasional.
Dia mengungkapkan, produksi film ini melibatkan 90% talenta lokal yang sebagian besar merupakan pendatang baru, serta 120 animator dari Hompimpa Animworks Surabaya untuk pengembangan karakter Foufo.
“Hari ini kita melihat komitmen itu telah terwujud menjadi sebuah karya yang siap dinikmati masyarakat. Ini membuktikan bahwa cerita dari daerah mampu menjadi tontonan yang menarik sekaligus memiliki potensi ekonomi,” tandas Riefky.
Sutradara Foufo sekaligus Founder SKAK Studios, Bayu Skak menyampaikan apresiasi atas dukungan Kementerian Ekraf yang telah membantu membuka jejaring hingga fasilitasi produksi di daerah. Visi Kementerian Ekraf untuk membangun ekonomi kreatif dari daerah sangat selaras dengan semangat yang diusung dalam film Foufo.
“Visi Kementerian Ekraf membangun ekonomi kreatif dari daerah sangat selaras dengan apa yang kami lakukan melalui Foufo. Kami ingin membuktikan bahwa talenta di daerah memiliki kesempatan yang sama untuk berkarya dan berkembang di industri perfilman Indonesia,” tutur dia.
Bayu menambahkan, Foufo tidak hanya berhenti sebagai karya film, tetapi juga dikembangkan sebagai IP yang didukung melalui pengembangan merchandise dan berbagai aktivasi kreatif. Film dengan dialog yang didominasi bahasa daerah ini dijadwalkan tayang serentak di seluruh bioskop Indonesia mulai 9 Juli 2026. (ant)

