JAKARTA, UMKMTRUST.ID – Bank Indonesia (BI) meluncurkan Program Transformasi Kewirausahaan UMKM Terpadu untuk Penciptaan Lapangan Kerja dan Ekonomi Kerakyatan. Program digulirkan sebagai upaya memperkuat ketahanan ekonomi nasional melalui pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Gubernur BI, Perry Warjiyo menegaskan, UMKM memiliki peran strategis dalam perekonomian nasional. UMKM bukan saja berperan sebagai fondasi penciptaan lapangan kerja, tapi juga sebagai wadah lahirnya generasi wirausaha masa depan yang produktif dan berdaya saing. “Wirausaha baru menjadi kunci kemandirian ekonomi bangsa,” tegas Perry pada peluncuran program tersebut di Kantor Pusat BI, Jakarta, Senin (22/6/2026).
Acara itu antara lain dihadiri Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar (secara virtual), Dirjen Pendidikan Islam Kementerian Agama Amin Suyitno, Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti, Deputi Bidang Kewirausahaan Kementerian UMKM Riza Damanik, Deputi Bidang Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat dan Pelindungan Pekerja Migran Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat Leontinus Alpha Edison, serta Deputi Gubernur BI Ricky Perdana Gozali.
Di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global, menurut Perry Warjiyo, penguatan sektor UMKM merupakan salah satu kunci menjaga pertumbuhan ekonomi domestik dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. “Penguatan UMKM juga sejalan dengan program prioritas nasional dan implementasi Asta Cita dalam memperkuat ekonomi kerakyatan,” kata dia.
Wirausaha Baru UMKM
Gubernur BI menjelaskan, peran besar UMKM terhadap perekonomian nasional tecermin pada kontribusinya yang mencapai 60,5% terhadap produk domestik bruto (PDB). Sektor UMKM menyerap sekitar 90% tenaga kerja serta menyumbang 15% ekspor Indonesia.

Dinamika ekonomi global yang semakin tidak pasti, kata Perry, menuntut Indonesia memperkuat fondasi ekonomi domestik melalui penciptaan wirausaha baru dan peningkatan kapasitas pelaku UMKM.
“Meningkatnya risiko ketidakpastian ekonomi global menuntut kemandirian ekonomi Indonesia melalui penciptaan wirausaha baru dan peningkatan kapasitas UMKM. Agar lebih berdampak, dilakukan pemilihan model bisnis terbaik dari UMKM binaan BI sehingga kesesuaian bisnisnya teruji di lapangan,” ujar dia.
Dia mengemukakan, Program Transformasi Kewirausahaan UMKM Terpadu dirancang untuk menghasilkan dampak nyata melalui penciptaan usaha-usaha baru yang mampu menciptakan nilai tambah, membuka lapangan kerja, dan memperkuat ekonomi kerakyatan.
Perry Warjiyo menambahkan, program ini akan dijalankan secara nasional dengan memanfaatkan jaringan 46 Kantor Perwakilan BI yang bersinergi dengan K/L terkait, pemangku kepentingan strategis, lebih dari 3.000 UMKM binaan BI, dan sedikitnya 1.500 pondok pesantren yang telah diberdayakan.
Perry menegaskan, kemampuan kewirausahaan menjadi faktor penentu keberhasilan UMKM. Karena itu, program tersebut tidak hanya berfokus pada pengembangan usaha, tetapi juga membangun mentalitas dan kompetensi pelaku usaha melalui pendidikan kewirausahaan, evaluasi, serta implementasi model bisnis yang telah terbukti berhasil.
“Motivasi yang kuat, semangat pantang menyerah, dan kemampuan membangun kerja sama merupakan fondasi penting bagi kemajuan UMKM,” tandas dia.
Empat Program Unggulan
Gubernur BI mengungkapkan, sebagai bagian dari implementasi Program Transformasi Kewirausahaan UMKM Terpadu, BI menyiapkan empat program unggulan yang akan dijalankan mulai 2026. Program pertama adalah ‘Cangkir Barista’ yang difokuskan pada peningkatan daya saing industri kopi nasional dari hulu hingga hilir.
BI akan memfasilitasi sertifikasi internasional bagi 400 barista sekaligus memberikan pendampingan usaha untuk membuka dan mengembangkan kedai kopi. Program ini diharapkan dapat memperkuat keterhubungan antara barista, petani kopi dalam negeri, dan pasar ekspor.
Perry Warjiyo mengakui, dari 923 ribu barista di Indonesia saat ini, hanya sekitar 100 orang yang memiliki sertifikasi internasional. “Melalui program ini, kita targetkan 400 barista bersertifikat internasional setiap tahun. Insyaallah dalam lima tahun, kita akan memiliki ribuan barista andal yang mampu membawa kopi Indonesia ke puncak dunia,” tutur Perry.
Program kedua, menurut Perry Warjiyo, yaitu ‘Citra Nusa’. Program ini ditujukan untuk memperkuat daya saing UMKM wastra (kain tradisional) Indonesia di pasar global. Sebanyak 300 pelaku UMKM akan memperoleh penguatan kapasitas teknis, kewirausahaan, dan inovasi desain produk guna memperluas peluang ekspor sekaligus meningkatkan penyerapan tenaga kerja.
Program ketiga, kata Gubernur BI, adalah ‘Air Berkah Indonesia’ yang difokuskan pada pengembangan usaha air minum dalam kemasan (AMDK) berbasis potensi lokal di lingkungan pesantren. Program ini menargetkan 200 pesantren pada 2026 sebagai bagian dari upaya mendorong kemandirian ekonomi pesantren.
Adapun program keempat yaitu ‘Tani Berkah Indonesia’ yang akan memanfaatkan teknologi rumah kaca (greenhouse) untuk meningkatkan produktivitas pertanian pesantren. Selain mendorong peningkatan pendapatan dan penciptaan lapangan kerja, program ini diharapkan berkontribusi terhadap penguatan ketahanan pangan daerah. “Implementasinya ditargetkan menjangkau 10 pesantren setiap tahun,” ujar Guberbur BI.
Perry mengatakan, atas dukungan pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan, BI optimistis ekosistem kewirausahaan nasional akan semakin kuat, inklusif, dan berkelanjutan dalam mendukung terwujudnya Indonesia Emas 2045.

“Melalui penguatan kapasitas usaha, inovasi produk, akses pembiayaan, hingga perluasan pasar ekspor, BI berharap program ini mampu melahirkan lebih banyak wirausaha produktif dan berdaya saing,” papar Perry.
Dia menegaskan, program ini berbeda dengan pelatihan biasa karena menggunakan metode terpadu tiga tahap, dari pendidikan kompetensi dan sertifikasi, masa magang (sandbox-ing atau nyantrik), hingga tahap terakhir berupa pemberian modal usaha.
“Wirausaha itu bukan soal uang dulu, tapi kemampuannya dulu. Kita didik kompetensinya, lalu kita ceburkan untuk magang praktik, baru setelah itu diberikan modal,” tandas dia.
Dukung Ekonomi Pesantren
Sementara itu, Menag Nasaruddin Umar dalam sambutannya secara virtual menyampaikan apresiasi atas sinergi yang selama ini terjalin antara BI, pemerintah, dan berbagai pemangku kepentingan dalam pengembangan ekonomi dan keuangan syariah, termasuk pemberdayaan pesantren.
Menurut Nasaruddin, penguatan ekonomi pesantren memiliki peran penting dalam membangun kemandirian ekonomi umat sekaligus memperluas manfaat ekonomi syariah bagi masyarakat.
“Melalui sinergi yang kuat dan berkelanjutan, kita berharap ekonomi syariah, khususnya yang berbasis pondok pesantren, dapat semakin berkembang dan menghadirkan keberkahan yang lebih luas bagi masyarakat dan perekonomian nasional,” ujar dia.
Menag menegaskan, Program Transformasi Kewirausahaan UMKM Terpadu sejalan dengan arah Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029 yang menempatkan penguatan ekonomi kerakyatan sebagai salah satu prioritas pembangunan. (han)

