Oleh SACHIN V. GOPALAN *)
UMKMTRUST.ID – Ada satu angka yang diam-diam memengaruhi kehidupan jutaan pelaku usaha di era ekonomi digital.
Sebagian besar konsumen tidak pernah melihatnya. Banyak pemberitaan pun jarang membahasnya. Namun bagi jutaan penjual, khususnya pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), angka tersebut sering kali menentukan apakah sebuah usaha dapat berkembang atau hanya mampu bertahan hidup.
Angka itu adalah 30%.
Dalam berbagai platform digital, penjual harus mengalokasikan sebagian pendapatannya untuk berbagai kebutuhan, mulai dari komisi, biaya transaksi, biaya promosi, iklan, hingga layanan pendukung lainnya. Secara terpisah, biaya-biaya tersebut mungkin terlihat wajar. Bagaimanapun juga, platform menyediakan akses ke pasar yang lebih luas, sistem pembayaran yang terintegrasi, dukungan logistik, dan berbagai fasilitas lain yang membantu pelaku usaha menjangkau pelanggan.
Namun ketika seluruh biaya tersebut dikalkulasikan secara bersamaan, muncul pertanyaan yang semakin relevan bagi banyak pelaku usaha. Mengapa penjualan terus meningkat, tetapi keuntungan yang diperoleh tidak selalu tumbuh dengan kecepatan yang sama?
Bagi sebagian UMKM, tantangan terbesar bukan lagi menemukan pelanggan. Tantangan terbesar justru terletak pada bagaimana mempertahankan margin keuntungan di tengah meningkatnya biaya untuk tetap kompetitif di pasar digital.
Inilah yang dapat disebut sebagai jerat komisi.
Bukan karena platform melakukan sesuatu yang salah, melainkan karena struktur pasar yang berkembang membuat banyak penjual memiliki pilihan yang semakin terbatas. Untuk tetap terlihat oleh konsumen, mereka harus berpromosi lebih banyak. Untuk bersaing dengan penjual lain, mereka harus memberikan diskon yang lebih besar. Untuk mempertahankan volume penjualan, mereka harus terus mengeluarkan biaya tambahan.
Pada akhirnya, semakin banyak usaha yang terjebak dalam situasi di mana mereka bekerja lebih keras, menjual lebih banyak, tetapi tidak selalu memperoleh manfaat yang sepadan.
Mengapa Margin Penjual Menjadi Persoalan Penting
Sekilas, pembahasan mengenai komisi dan biaya transaksi mungkin terdengar seperti persoalanyang hanya memengaruhi pelaku usaha. Padahal dampaknya jauh lebih luas.
Margin keuntungan adalah ruang yang memungkinkan sebuah bisnis untuk tumbuh. Dari margin itulah pelaku usaha dapat meningkatkan kualitas produk, memperbaiki layanan pelanggan, merekrut tenaga kerja baru, melakukan inovasi, atau memperluas jangkauan pasar mereka.
Ketika margin tersebut semakin menipis, kemampuan untuk melakukan investasi-investasiproduktif juga ikut berkurang.
Akibatnya, banyak pelaku usaha lebih fokus mengelola biaya daripada mengembangkan bisnis.
Keputusan untuk meluncurkan produk baru ditunda. Ekspansi usaha menjadi lebih lambat. Investasi teknologi yang seharusnya meningkatkan efisiensi sering kali tidak menjadi prioritas karena keterbatasan sumber daya.
Dampaknya pada akhirnya dirasakan oleh seluruh ekosistem. Konsumen mungkin menghadapi harga yang lebih tinggi. Pilihan produk menjadi lebih terbatas. Inovasi berjalan lebih lambat karena pelaku usaha tidak memiliki ruang yang cukup untuk bereksperimen dan berkembang.
Di Indonesia, persoalan ini menjadi semakin penting mengingat peran UMKM yang sangat besar dalam perekonomian nasional. Dengan lebih dari 65 juta unit usaha yang berkontribusi lebih dari 60% terhadap produk domestik bruto (PDB), kesehatan UMKM pada dasarnya merupakan cerminan kesehatan ekonomi Indonesia secara keseluruhan.
Ketika UMKM berkembang, manfaatnya dirasakan oleh masyarakat luas. Ketika mereka menghadapi tekanan, dampaknya juga meluas ke berbagai sektor ekonomi.
Ketika Akses Berubah Menjadi Ketergantungan
Salah satu keberhasilan terbesar ekonomi digital adalah kemampuannya membuka akses.
Hari ini, seorang pengusaha kecil di daerah dapat menjual produknya kepada pelanggan di berbagai kota tanpa harus membuka cabang fisik. Peluang yang sebelumnya hanya dimiliki perusahaan besar kini tersedia bagi siapa saja yang memiliki produk berkualitas dan koneksi internet.
Namun keberhasilan tersebut juga membawa tantangan baru.

Seiring semakin dominannya platform digital dalam aktivitas perdagangan, banyak pelaku usaha menjadi sangat bergantung pada sejumlah kecil saluran untuk menjangkau pelanggan. Ketergantungan ini menciptakan keterbatasan pilihan dan mengurangi fleksibilitas dalam menjalankan bisnis.
Fenomena tersebut bukan sesuatu yang unik. Di berbagai negara, pasar digital cenderung berkembang ke arah yang serupa. Semakin besar sebuah platform, semakin banyak pengguna yang bergabung. Semakin banyak pengguna yang bergabung, semakin sulit bagi pelaku usaha untuk mengabaikannya.
Di satu sisi, kondisi ini menciptakan efisiensi. Namun di sisi lain, ketergantungan yang terlalu besar dapat mengurangi tingkat kompetisi dalam ekosistem digital.
Pertanyaannya kemudian bukan apakah platform diperlukan. Jawabannya tentu ya. Platform telah memberikan kontribusi yang sangat besar terhadap perkembangan ekonomi digital.
Pertanyaan yang lebih penting adalah bagaimana memastikan bahwa pasar tetap kompetitif dan memberikan ruang yang cukup bagi pelaku usaha untuk memiliki pilihan.
Open Network Mengubah Cara Kompetisi Bekerja
Di sinilah konsep open network atau jaringan terbuka menjadi relevan.
Prinsip dasarnya sederhana. Alih-alih mengharuskan seluruh aktivitas perdagangan berlangsung dalam satu ekosistem tertutup, jaringan terbuka memungkinkan berbagai pelaku untuk saling terhubung melalui standar yang sama.
Dalam model ini, penjual dapat memilih layanan logistik yang paling efisien, sistem pembayaran yang paling sesuai, atau layanan pendukung lainnya berdasarkan kebutuhan bisnis mereka. Mereka tidak harus bergantung pada satu penyedia layanan untuk seluruh proses perdagangan. Yang berubah bukan hanya teknologi, tetapi juga cara kompetisi berlangsung.
Dalam sistem yang lebih terbuka, penyedia layanan harus bersaing berdasarkan kualitas, harga,dan inovasi. Perusahaan logistik harus menawarkan pengiriman yang lebih cepat dan lebih efisien. Penyedia pembayaran harus memberikan pengalaman yang lebih baik. Platform dan penyedia layanan lainnya harus terus menciptakan nilai tambah agar tetap relevan.
Bagi penjual, kondisi ini berarti lebih banyak pilihan dan lebih banyak kendali atas cara mereka menjalankan bisnis.
Mereka tidak lagi sekadar menjadi peserta dalam sebuah ekosistem, tetapi memiliki kesempatan yang lebih besar untuk menentukan bagaimana mereka ingin berpartisipasi di dalamnya.
Kompetisi yang Sehat Menguntungkan Semua Pihak
Salah satu prinsip paling mendasar dalam ekonomi adalah bahwa kompetisi yang sehat mendorong efisiensi dan inovasi.
Ketika perusahaan harus bersaing untuk mendapatkan pelanggan, mereka terdorong untuk menawarkan layanan yang lebih baik dengan biaya yang lebih kompetitif. Konsumen memperoleh manfaat berupa pilihan yang lebih banyak dan kualitas layanan yang lebih tinggi. Pelaku usaha mendapatkan akses terhadap solusi yang lebih sesuai dengan kebutuhan mereka.
Prinsip yang sama berlaku dalam ekonomi digital.
Ketika berbagai penyedia layanan dapat bersaing dalam ekosistem yang terbuka, biaya cenderung menjadi lebih efisien dan distribusi nilai menjadi lebih seimbang. Penjual memperoleh lebih banyak keleluasaan untuk memilih mitra yang memberikan manfaat terbaik bagi bisnis mereka.
Yang perlu dipahami, open network bukanlah upaya untuk menggantikan platform yang sudah ada. Platform yang memberikan nilai terbaik akan tetap berkembang dan memenangkan kepercayaan pengguna.
Perbedaannya adalah keberhasilan tersebut akan semakin ditentukan oleh kualitas layanan yang ditawarkan, bukan semata-mata karena posisi dominan dalam ekosistem.
Dan pada akhirnya, kompetisi yang lebih sehat akan menguntungkan semua pihak.
Membangun Masa Depan Digital yang Lebih Seimbang
Masa depan ekonomi digital tidak seharusnya dipandang sebagai pilihan antara platform atauopen network. Keduanya dapat berjalan berdampingan dan saling melengkapi.
Platform akan tetap menjadi penggerak inovasi dan pencipta berbagai layanan baru. Sementara itu, jaringan terbuka dapat membantu memastikan bahwa manfaat dari pertumbuhan ekonomi digital dapat dinikmati secara lebih luas oleh seluruh peserta ekosistem.
Pada akhirnya, jerat komisi bukan hanya persoalan biaya.
Ini adalah persoalan tentang siapa yang memperoleh manfaat dari nilai yang diciptakan dalam ekonomi digital.
Para penjual adalah pihak yang menciptakan produk, melayani pelanggan, membuka lapangan kerja, dan menggerakkan aktivitas ekonomi sehari-hari. Mereka membutuhkan ruang untuk tumbuh dan berkembang. Mereka membutuhkan sistem yang memberi pilihan, bukan ketergantungan.
Open network menawarkan peluang untuk menciptakan keseimbangan tersebut. Bukan dengan membongkar sistem yang sudah ada, melainkan dengan membangun ekosistem yang lebih terbuka, lebih kompetitif, dan lebih inklusif.
Karena pada akhirnya, ekonomi digital yang kuat bukan hanya diukur dari besarnya transaksi yang terjadi. Ekonomi digital yang benar-benar berkelanjutan adalah ekonomi yang memungkinkan mereka yang menciptakan nilai untuk menikmati bagian yang adil dari nilai yang mereka hasilkan. ***
*) CEO Indonesia Economic Forum yang juga bertindak sebagai lembaga penginkubasi (incubating agency) dari Indonesia Open Network (ION) yang akan diluncurkan pada Juli 2026. Ia juga menjabat sebagai Ketua Steering Committee ION, yang dirancang sebagai model infrastruktur perdagangan digital terbuka dan interoperabel di Indonesia dan Asia Tenggara.

