MEDAN, UMKMTRUST.ID – Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), Maman Abdurrahman mengungkapkan, Kementerian UMKM memperkuat ekosistem kewirausahaan melalui Bursa Wirausaha Unggulan Provinsi Sumatera Utara (Sumut). Program ini dirancang menjadi jembatan bagi wirausaha hasil inkubasi untuk mengakses pembiayaan, pasar, teknologi, perizinan, sertifikasi, hingga kemitraan usaha agar dapat berkembang dan naik kelas.
Menurut Menteri Maman, Bursa Wirausaha Unggulan bukan sekadar seminar atau pameran, melainkan bagian dari proses berkelanjutan untuk memastikan wirausaha yang telah mendapatkan pelatihan, pendampingan, dan inkubasi mampu mengembangkan usahanya secara produktif dan berkelanjutan.
Melalui kegiatan tersebut, kata Menteri UMKM, produk dan usaha yang telah dipersiapkan dalam proses inkubasi dipertemukan dengan calon pembeli, lembaga pembiayaan, mitra usaha, penyedia teknologi, serta jejaring pemasaran dan logistik.
“Kita mencoba menjadikan lembaga-lembaga inkubasi ini untuk menyiapkan sekitar 500 UMKM agar mendapatkan pembinaan dan pemberdayaan secara komprehensif, mulai dari perizinan, legalisasi, teknologi, peningkatan produksi, pelatihan, hingga akses pemasaran,” ujar Maman dalam Bursa Wirausaha Unggulan Provinsi Sumut di Auditorium Universitas Sumatera Utara (USU), baru-baru ini.
Dia menjelaskan, Kementerian UMKM juga mengoptimalkan lembaga inkubasi di dalam maupun di luar kampus untuk memperluas jangkauan pendampingan terhadap sekitar 57 juta UMKM di Indonesia. Di Sumut terdapat 17 lembaga inkubator yang dinilai berpotensi menjadi bagian penting dalam memperkuat ekosistem kewirausahaan daerah.
Dia menambahkan, penguatan ekosistem tersebut dilakukan melalui tiga tahapan yang saling terhubung. Tahap pertama adalah memperkuat fondasi usaha melalui inkubasi, pendampingan, dan Pro-Kesra Produktif. Tahap kedua membuka akses pertumbuhan melalui Bursa Wirausaha Unggulan, diikuti keberlanjutan pendampingan setelah inkubasi diperkuat melalui SAPA UMKM.
“Pro-Kesra Produktif kita siapkan untuk menyeragamkan kurikulum dan kebijakan, termasuk pembiayaan serta pembinaan dan pelatihan antara pemerintah pusat, provinsi, hingga kabupaten/kota agar lebih terukur dan tepat sasaran. Targetnya, sesuai arahan Presiden, sekitar 10 juta wirausaha dan pekerja,” ujar Maman.
Pada tahap berikutnya, menurut Menteri Maman, Bursa Wirausaha Unggulan menghadirkan temu bisnis (business matching) agar wirausaha yang telah siap dapat bertemu langsung dengan calon mitra sekaligus memperoleh akses terhadap pembiayaan dan pasar.
Maman Abdurrahman menekankan bahwa keberhasilan program kewirausahaan tidak cukup diukur dari jumlah peserta atau banyaknya produk yang dipamerkan. Ukuran yang lebih penting adalah tindak lanjut yang dihasilkan, baik berupa pembiayaan, transaksi, kemitraan, pembukaan pasar baru, maupun peningkatan skala usaha.
Dalam kesempatan tersebut, Maman juga menyampaikan perkembangan akses pembiayaan bagi UMKM di Sumut. Penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) di provinsi itu telah mencapai sekitar Rp11 triliun kepada sekitar 168 ribu debitur. Dari jumlah tersebut, sekitar Rp7,56 triliun mengalir ke sektor produksi.

Khusus melalui Bank Sumut, penyaluran KUR telah mencapai sekitar Rp954 miliar atau mendekati Rp1 triliun. Melihat kinerja tersebut, Kementerian UMKM akan mengupayakan peningkatan kuota KUR Bank Sumut hingga sekitar Rp2 triliun untuk semakin memperluas akses pembiayaan bagi UMKM di Sumut.
Menteri Maman mengatakan, penguatan kewirausahaan nasional juga memperoleh landasan melalui Peraturan Presiden Nomor 38 Tahun 2026 tentang Pengembangan Kewirausahaan Nasional. Target rasio kewirausahaan sebesar 3,6% pada 2029 dan 8% pada 2045 membutuhkan ekosistem yang sehat, kuat, inklusif, dan berkelanjutan.
Karena itu, kata dia, kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah, perguruan tinggi, dunia usaha, lembaga pembiayaan, inkubator, serta masyarakat menjadi faktor penting untuk menciptakan lebih banyak wirausaha produktif.
“Kolaborasi tidak boleh berhenti pada penandatanganan, rapat, dan logo bersama. Kolaborasi harus membuka akses, melahirkan transaksi, memperluas pasar, menghadirkan pembiayaan, dan menciptakan lapangan kerja,” tegas Maman.
Menteri Maman Abdurrahman juga berharap universitas terus mengambil peran sebagai simpul kolaborasi yang mempertemukan ilmu pengetahuan, riset, inovasi, pembiayaan, dan dunia usaha. Kampus tidak hanya menjadi tempat menyiapkan pencari kerja, tetapi juga ruang untuk melahirkan generasi pencipta lapangan kerja.
Di tempat yang sama, Gubernur Sumut, Bobby Nasution mengatakan, Sumut memiliki sekitar 1,4 juta UMKM dengan rasio kewirausahaan sebesar 4,1% yang menyerap lebih dari 2 juta tenaga kerja. Namun, sebanyak 99,55% di antaranya masih berada dalam kategori usaha mikro.
Dia mengungkapkan, kondisi tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang untuk menghadirkan program pemberdayaan yang semakin terarah sehingga lebih banyak usaha mikro dapat berkembang menjadi usaha kecil dan usaha kecil tumbuh menjadi usaha menengah.
“Ini menjadi pekerjaan rumah kita bersama. Pemprov Sumut berkomitmen mendukung program pemerintah pusat agar UMKM terus bertumbuh, dari mikro menjadi kecil dan dari kecil menjadi menengah,” tandas Bobby.
Bobby juga menilai penguatan pembukuan, penyusunan studi kelayakan, dan peningkatan kesiapan bisnis menjadi bagian penting agar UMKM semakin mudah mengakses pembiayaan maupun investasi. “Kita ingin program ini menghasilkan aksi nyata dan membawa UMKM naik kelas,” tutur dia.
Senada dengan itu, Rektor USU, Prof Muryanto Amin mengapresiasi dukungan Kementerian UMKM dalam memperkuat kapasitas dan akses UMKM melalui Bursa Wirausaha Unggulan. Kegiatan tersebut membuka peluang bagi pelaku UMKM untuk mendapatkan mitra dan dukungan yang dibutuhkan dalam mengembangkan usaha.
“Alhamdulillah, melalui ajang ini banyak UMKM bisa mendapatkan mitra. Support dari Pak Menteri luar biasa. Semoga ke depan semakin kuat. Komitmen USU untuk UMKM tidak perlu diragukan lagi, kami siap mendukung,” ujar Muryanto Amin. (it)

