JAKARTA, UMKMTRUST.ID – Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) meluncurkan UMKM Center untuk mendorong usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) naik kelas di berbagai lini. Inisiatif ini digulirkan sejalan dengan melambatnya pertumbuhan kredit UMKM di Tanah Air.
“Penguatan sektor UMKM menjadi salah satu fokus yang kami pandang strategis. Karena itu, kami meluncurkan UMKM Center Perbanas,” kata Ketua Umum Perbanas, Hery Gunardi di Jakarta, Kamis (18/6/2026).
Menurut Hery, UMKM di Indonesia berkontribusi lebih dari 60% terhadap perekonomian nasional. Sektor UMKM menyerap sebagian besar tenaga kerja. Namun berdasarkan hasil riset Perbanas, pertumbuhan kredit UMKM mengalami perlambatan. Bahkan, pertumbuhan kredit UMKM sempat mengalami kontraksi.
“Ini menjadi perhatian Perbanas, apa penyebab perlambatan tersebut. Kondisi ini perlu disikapi dengan terus mendorong para pelaku UMKM agar dapat mengakses pembiayaan atau kredit dari perbankan untuk meningkatkan usaha mereka,” tutur dia.
Hery Gunardi menjelaskan, berdasarkan temuan riset Perbanas, tantangan umum UMKM saat ini bukan terletak pada terbatasnya pasokan kredit dari perbankan. “Sebaliknya, mayoritas pelaku UMKM belum mengajukan kredit karena mereka merasa belum membutuhkan pembiayaan dan masih mengandalkan modal sendiri,” ujar dia.
Alasan itulah, kata Hery, yang mendorong Perbanas membentuk UMKM Center sebagai platform kolaborasi untuk membantu UMKM naik kelas melalui penguatan kapasitas usaha peningkatan akses pembiayaan, perluasan akses pasar, dan akselerasi digitalisasi usaha
“Kami berharap UMKM Center dapat menjadi jembatan yang menghubungkan pelaku UMKM dengan ekosistem yang mereka butuhkan untuk berkembang secara berkelanjutan,” tandas dia.
Hery Gunardi mengakui, selama ini keterbatasan modal sering dianggap sebagai hambatan utama yang mengganjal perkembangan UMKM. Padahal, persoalan yang dihadapi UMKM jauh lebih kompleks. Bagi pelaku usaha, akses pembiayaan memang penting, tetapi bukan satu-satunya penentu keberhasilan.
“Faktor yang paling menentukan keberhasilan UMKM justru terletak pada kualitas usaha, kemampuan mengelola bisnis, dan pendampingan yang berkelanjutan. Kunci sukses UMKM itu bukan semata-mata permodalan, bukan duit. Yang lebih penting adalah kelayakan usaha,” papar dia.
Dalam menilai pengembangan UMKM, menurut Hery, perbankan selalu melihat dua aspek utama, yakni permodalan dan kelayakan usaha. Dari kedua faktor tersebut, kelayakan usaha menjadi fondasi yang menentukan apakah sebuah bisnis layak mendapatkan pembiayaan.
“Kalau bisnisnya bagus, akses pembiayaan akan lebih mudah. Tetapi kalau usahanya tidak bagus, tentu akan sulit didukung. Karena itu, UMKM kita membutuhkan pendampingan,” ujar dia.
Dia mengungkapkan, salah satu persoalan yang masih banyak ditemukan, terutama pada UMKM pemula, adalah lemahnya pengelolaan keuangan. Banyak pelaku usaha yang masih mencampurkan keuangan pribadi dan usaha sehingga menyulitkan proses pengembangan bisnis maupun pengajuan kredit ke perbankan.
Karena itu, Perbanas mendorong pembentukan UMKM Center yang tidak hanya berfungsi sebagai jembatan menuju akses pembiayaan, tetapi juga menjadi pusat pengembangan kapasitas dan kompetensi pelaku usaha.
“Pendampingannya mulai dari bagaimana mengelola bisnis. Banyak UMKM pemula yang masih mencampur uang pribadi dengan uang usaha. Bahkan membuat pembukuan sederhana pun sebagian masih belum terbiasa,” tutur dia.
Hery Gunardi menegaskan, tujuan utama UMKM Center bukan sekadar mencetak UMKM yang layak mendapatkan kredit (bankable), tetapi membangun kemampuan usaha secara menyeluruh agar mampu tumbuh secara berkelanjutan.
“Yang kami tuju adalah bagaimana membangun kapabilitas UMKM, mulai dari akses pasar, kemampuan digital, pembukuan, hingga pemahaman dalam mengelola bisnis,” papar dia.
Selain aspek manajemen usaha, menurut Hery, kemampuan pemasaran digital merupakan kebutuhan yang semakin penting. Di tengah perubahan perilaku konsumen, pelaku UMKM dituntut mampu memanfaatkan platform digital untuk memperluas pasar dan meningkatkan daya saing.
“Pelaku UMKM perlu memahami pemasaran digital melalui platform seperti TikTok atau Instagram. Kalau mereka memiliki kemampuan itu, akses terhadap pembiayaan juga akan menjadi lebih mudah,” tandas dia.

Masuk Rantai Pasok Industri
Perbanas berpandangan, penguatan UMKM tidak cukup dilakukan melalui pelatihan dan pembiayaan semata. Pelaku usaha juga perlu didorong masuk ke dalam ekosistem bisnis yang terhubung dengan industri besar sehingga memiliki pasar yang jelas dan berkelanjutan.
Herry Gunardi mencontohkan praktik yang berkembang di Jepang, khususnya pada industri otomotif. Perusahaan besar seperti Toyota melibatkan ribuan UMKM sebagai pemasok komponen kendaraan, dari kampas rem, shockbreaker, hingga baut.
Namun, untuk menjadi bagian dari rantai pasok industri, UMKM harus melalui proses pembinaan dan standardisasi yang ketat. “Standardisasi harus diterapkan. Mereka dilatih, diajarkan proses produksi, dan harus memenuhi standar kualitas yang ditetapkan. Jadi, UMKM tidak langsung masuk begitu saja,” tegas dia.
Menurut Hery, pola kemitraan seperti itu perlu diperluas di Indonesia. Banyak aktivitas bisnis yang dapat diserahkan kepada UMKM sehingga menciptakan efisiensi bagi perusahaan besar sekaligus membuka peluang usaha yang lebih luas bagi pelaku usaha kecil.
“Turunan-turunan bisnis itu bisa diserahkan kepada UMKM. UMKM-nya hidup, sementara perusahaan utama juga lebih ringan dari sisi permodalan dan operasional,” ucap dia.
Pada kesempatan yang sama, Ketua Bidang Riset dan Kajian Ekonomi Perbankan Perbanas, Aviliani mengatakan, UMKM Center dirancang untuk membantu pelaku usaha naik kelas secara berkelanjutan. Ketika skala usaha meningkat, kebutuhan pembiayaan juga akan tumbuh secara alami.
Menurut Aviliani, salah satu tantangan terbesar saat ini adalah lambatnya proses peningkatan kapasitas UMKM. Akibatnya, banyak pelaku usaha tidak membutuhkan tambahan kredit karena bisnisnya belum berkembang secara signifikan.
“Kalau UMKM tidak naik kelas, mereka tidak mungkin terus-menerus meminjam. Kalau dipaksakan justru berisiko menjadi kredit macet,” ujar Aviliani.
Dia menjelaskan, UMKM Center akan dikembangkan melalui kolaborasi dengan berbagai lembaga dan perbankan yang telah memiliki program pembinaan UMKM, termasuk BRI. Fokusnya tidak hanya memperluas akses pembiayaan, tetapi juga menghubungkan UMKM dengan rantai pasok industri.
“Kami akan menghubungkan mereka dengan supply chain. Karena tanpa menjadi bagian dari rantai pasok, akan sulit bagi UMKM untuk naik kelas. Di Korea maupun Thailand, banyak UMKM berkembang karena terintegrasi dalam supply chain industri,” ucap dia.
Avi menambahkan, Perbanas juga tengah menyiapkan skema pendanaan awal melalui dana tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) maupun Komite Masyarakat Perbankan Peduli (KMPP) untuk membantu UMKM yang belum memenuhi syarat memperoleh kredit perbankan.
Perbanas mencatat sekitar 90% pelaku UMKM merasa belum membutuhkan pembiayaan dari bank. Kondisi ini menjadi salah satu faktor yang menyebabkan penyaluran kredit perbankan ke sektor UMKM masih relatif rendah.
Melalui pendampingan yang terstruktur, peningkatan kapasitas usaha, serta integrasi ke dalam rantai pasok industri, Perbanas berharap semakin banyak UMKM yang mampu naik kelas, memperluas pasar, dan menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi nasional. (fiq)

